Langsung ke konten utama

Kurowo Nelongso Bab 26: Kono Kene Bentrok

 Chapter 26: Kono Kene Bentrok



Malam telah menuju pagi. Dingin udara merangsek paksa menembus pori kulit ari, situasi yang normalnya orang-orang akan memanfaatkannya untuk mancal kemul (tarik selimut) menghangatkan diri, hanyut dan mengalir bersama dalam alur mimpi.

Alam bawah sadar merajut kisah-kisah tentang hal-hal yang tak pasti.



Akan tetapi malam terasa mencekam, kesibukan menerkam, tatkala suatu tragedi besar terjadi, kobaran api menciptakan suasana terang benderang, mengalahkan cahaya bulan temaram.



Hutan Wonopati dilahap api.



"Butuh lebih dari 2 jam untuk menangani amukan si jago merah yang luar biasa ini. Dan ini bukanlah kebakaran hutan alami, tapi ada yang sengaja membakarnya."



"Sepertinya asumsi kita senada, aku merasakan ada energi kanuragan dari kobaran api dan pusaran angin itu."



"Ya sepertinya memang demikian"



"Oh ya, kalau boleh berprasangka buruk, aku menebak-nebak pelaku yang sengaja membakar hutan ini adalah…."



"Hmmmm siapa menurutmu?"



"Salah seorang atau suruhan peme…."



Belum usai praduga disampaikan, tiba-tiba ada orang yang dengan tergopoh-gopoh menghampiri mereka "Kami— masyarakat biasa berterimakasih kepada kalian, andai tak ada pegiat kanuragan yang andil membantu mungkin sampai sekarang belum teratasi". ujar orang yang baru datang menyela obrolan di antara mereka yang merupakan para pegiat kanuragan.



"Hahahaha jangan bilang seperti itu, kita semua sama-sama berperan penting di sini, tak ada yang lebih unggul. Baik kalian, kami dan anggota pemadam kebakaran, semuanya punya andil yang berarti."



"Benar, patut kita syukuri, hanya bagian pusat saja yang terbakar habis, pepohonan sekeliling Wonopati masih aman." imbuh yang lainnya.



"Haha, ya ya tapi tetap saja, kalian luar biasa, mungkin kedepannya saya juga perlu berlatih kanuragan, hahaha"



"Wooooo bagus itu, kami menantikan kehadiran anda untuk bergabung."



"Hahahahahaha" serempak tawa bahagia di antara obrolan hangat itu.



Berkat kerja sama bahu membahu antara masyarakat yang terdiri dari manusia biasa, pegiat Kanuragan dan dilengkapi oleh pemadam kebakaran yang meskipun datang sedikit terlambat tapi tentu berperan penting.



Kendati kobaran api telah terhenti, namun pemandangan menyedihkan terpampang ketika pohon-pohon yang sebelumnya memadati pusat hutan Wonopati telah habis terbakar dan menjadi abu.



Pepohonan besar yang usianya ratusan tahun dan dijaga, dilestarikan oleh orang-orang dari desa-desa yang mengelilingi Wonopati seperti Cenggur Asri, Begal Wani, Wadas Waras, Jati Rempang. Kini pohon-pohon itu hanya menjadi cerita sejarah.



Sementara api sudah mulai padam, hanya menyisakan kepulan asap tebal yang membumbung tinggi.



NIU NIU NIU NIUUUUUUU



Terdengar raung sirine para "pahlawan".



"Woooooo pulisi gebleg, rampung gek teko"

(Wooooo polisi ndak mutu, selesai baru datang)



"Lhaiyo aparat ki niat kerjo opo orak jane tho yo yo?!!"

(Lhaiya aparat itu pada niat kerja apa nggak sih?!!)



"Niate kerjo nek sing ono bayarane gede, nek ngurusi masalah wong cilik aras-arasen"

(Niat kerja kalau yang ada bayaran gede, kalau membantu masalah rakyat kecil ogah-ogahan).



"Mulane wetenge do mblending kakean mangan duit panas"

(Enggak heran perutnya pada buncit, kebanyakan makan duit haram).



Desas desus warga menyambut para aparat kepolisian dan tentara, yang terlambat datang itu, bukan sambutan hangat dengan penuh hormat, justru amarah dan kekecewaan. Memang sudah selayaknya rombongan aparat itu mendapatkan konsekuensi dari keterlambatan yang tak dapat ditolerir.



Sebab reaksi publik tidak bisa ditebak.

Alih-alih kedatangan mereka akan disambut hangat, yang terjadi justru sebaliknya.



"Hmmmm… waktu telah menunjukkan pukul dua lebih, kebakaran hutan terjadi sekitar pukul 9 malam. Itupun yang disadari oleh beberapa orang yang kemudian memberitahukannya ke orang-orang lainnya, bisa jadi awal mula terbakarnya antara pukul 7 atau 8 malam, dan semakin melebar."



"Hutan Wonopati seluas ini bisa terberangus habis andai kita terlalu telat menyadari".



"Kalau kita melihat cakupan area yang terbakar ini, mungkin ini lebih dari 10.000 hektar, sangat disayangkan, banyak pepohonan yang usianya sudah ratusan tahun harus ludes menjadi abu, yang tak kalah miris tentu satwa-satwa liar dan langka yang ikut terberangus, biadaappp sekali orang yang sengaja melakukan pembakaran ini. cihhh".



Memang tragedi kebakaran hebat yang semakin melebar tersebut baru disadari orang-orang saat sudah di tengah malam dan di saat itu pula, masyarakat di sekitar Wonopati langsung bergerak untuk memadamkan, meskipun waktu yang seyogyanya dimaksimalkan untuk beristirahat, namun keadaan memaksa untuk mengabaikan zona nyaman demi keselamatan bersama yang jauh lebih prioritas.



Wajarnya, telat setengah atau satu jam itu bisa dimaklumi, setidaknya masih kebagian jatah untuk ikut andil berperan memadamkan api atau bantuan logistik dan lainnya.



Tapi aparat-aparat ini datang di saat semuanya sudah selesai dan teratasi.



"HUUUUUUUUUUUUUUUUU"

"WUUUUUUUUUUUUUUUUU"

"GROMBOLAN OPPOOO KUWI?!"



"KABOTAN SERAGAM MULANE SUWE MANGKATE"

(Berat di seragam, pantesan lama persiapan berangkatnya)



"IYOOO koyok wong wedok nek macak, kemenyek"

(IYA, lamanya selayaknya perempuan dandan, kemayu).



Sorak-sorai warga melampiaskan kekesalan.



"Wooo opo kuwi!! teko keri, jare paling disiplin, mbiyen jare pas meh mlebu pelatihane kudu disiplin, telat sitik kudu push up, saiki push up sek sakdurunge cekrak-cekrek laporan thok ora ngewangi opo-opo mbut jembooot"



(Wooo apa-apan itu!! datang terlambat, padahal katanya si paling disiplin, dulu katanya saat mau masuk pelatihannya pun harus disiplin, telat sedikit pun tetap harus push up, sekarang push up dulu dong! sebelum cekrak-cekrek buat laporan kosong, nggak ngebantu apa-apa mbut rambut kemaluan).



"Dasar klemar-klemer, sat set te nek ono duite gede, paling gercep nek mbantu pejabat, pengusaha, lembaga opo-opoan ngono iku?!!!"



Tak ada warga yang respek dengan pasukan berseragam itu, perasaan jengah dan amarah tak terbendung, bisa dimaklumi kekecewaan itu mencuat karena memiliki dasar, dasar dari pengalaman dan pemahaman di lapangan.



Menjelaskan betapa kontradiktif antara semboyan dan prakteknya.



Di tengah kasak-kusuk dan cibiran ketidaksukaan akan kehadiran para pasukan berseragam, yang datang bak pahlawan kesiangan. Bukan kesadaran permohonan maaf atau berbasa-basi dengan warga, yang terjadi malah ada di antara aparat yang tengah bersiap untuk membuat laporan kejadian, yang sikapnya hanyalah formalitas, asal sudah turun ke lapangan, cekrak-cekrek, rekam-rekam lalu diimbuhi narasi laporan untuk dikirimkan ke pusat, sebagai bukti 'sudah bekerja'.



"Terjadi kebakaran hebat yang melanda hutan Wonopati, kami aparat kepolisian bersama tentara, dibantu warga masyarakat, akhirnya bisa memadamkan api…."



"WOOOOOOOO"

"HUUUUUUUUUU"

"NDLOGOG"



"MATAAANE matane, woe!!! iso-isone ngaku-ngaku kami aparat dibantu warga, dibantu ndasmu iiii".



"Woalah cocote, teko-teko keri ora ngopo-ngopo, ujug-ujug nggawe laporan, su asuuu.."

(Woalah mulutnya, datang-datang telat nggak berperan apa-apa, tiba-tiba buat laporan, njing anjiiing..)



"Sementara ini api telah sepenuhnya berhasil kami…." BRAAAAKKKKK



Sebilah kayu terlempar ke arah salah satu kru aparat kepolisian yang sedang membuat rekaman video laporan kejadian. Kayu tersebut menghantam telak ke kameramen kepolisian.



Tak hanya di situ, beberapa titik tim aparat yang sedang bernarsis ria hanya untuk cekrak-cekrek guna mengirimkan laporan formalitas, tak luput dari amukan warga, ada yang melempari abu, potongan-potongan kayu sisa kebakaran, arang hingga batu.



Bentrok tak terhindarkan, antara warga sipil melawan aparat.



"Dancok kowe pol pol"

"Tentara asuuu, ndlogog njaran"

"Bajingan"



"Wuuuuuu, kroyok wae yoooo"

"WUUUUUUUUUUUUUU" suara riuh dari rakyat biasa yang tengah bentrok dan beradu tinju dengan para aparat.



DOOORRR DOOORRR



Tembakan peringatan diarahkan ke udara.



Tapi tak membuat amarah warga bergeming, justru semakin menjadi-jadi.

Baku hantam warga melawan pasukan aparat.



Di saat ricuh semakin kacau.



ZERRRRAAAAKKKKGGGGGG



Tanah terasa bergetar lalu, ZLAAAAAZHHHH

Tiba-tiba tanah tempat orang-orang yang sedang bentrok dengan aparat, membeku dan menjadi es kemudian es itu semakin melebar.



KRATAAK KRATAAKKKK KRAKAATTTT



ZLAM



Hamparan es yang beku terbentuk, menjadikan suasana di sekitarnya terasa ada terpaan hawa dingin di antara sisa-sisa panas yang masih terasa.



"CUKUP!!!!" teriak salah seorang.



Rupanya orang itulah yang membuat tanah berubah beku dan menjadi ladang salju.



Seketika antara polisi dan tentara yang ricuh dengan rakyat biasa, terhenti.

Pandangan semua orang tertuju pada pengguna kanuragan yang mampu menciptakan hamparan padang es dalam sekejap itu.



"Ais Dahlia..!!!" gumam dari orang-orang yang mengenali pengguna kanuragan itu.

Seorang wanita berbusana muslimah, yang juga turut andil dalam rangka memadamkan kebakaran hutan, dengan kemampuan istimewa dan langka yang ia miliki.



Ais Dahlia: "Bentrok dan ribut dalam situasi yang seperti ini, seharusnya tak perlu terjadi, tapi pemicunya adalah kalian para aparat, datang terlambat dan tiba-tiba mengaku-ngaku seolah-olah berperan serta hanya untuk mengelabuhi pusat dan membuat laporan formalitas belaka, lalu menyetir media untuk menarasikan bahwa kalian lah pahlawan yang memadamkan kebakaran hebat ini, seperti yang sudah-sudah, kalian itu simbolis keadilan namun pada kenyataannya tindakan kalian sangat memalukan". suaranya terdengar halus nan lembut namun sangat tajam dan menusuk. "Bila saja kalian karuan tidak datang sekalian, maka keributan ini tidak akan terjadi, dan masyarakat yang ada di sini yang telah kelelahan membantu memadamkan api, bisa lebih tenang dan lega untuk beristirahat, bukan meladeni kekonyolan yang kalian (aparat) lakukan". imbuhnya dengan nada kekecewaan.



Tak ada suara apapun yang keluar dari puluhan pasukan berseragam baik dari yang berpangkat apalagi yang sebatas prajurit, semua terdiam tak ada interupsi dari kalimat yang teramat menusuk yang dialamatkan kepada mereka.



___



Sementara jauh di seberang tempat terjadinya bentrok yang merupakan sisi timur, pada sisi barat ada sekumpulan orang, yang orang-orang itu juga berperan membantu memadamkan api.



Dan orang-orang itu, bukanlah orang biasa, melainkan para pertapa yang jarang sekali menampakkan diri di hadapan banyak orang.



Pun meskipun bergabung dan berjibaku dalam upaya pemadaman api, mereka juga memilih untuk memisahkan diri.

Aura para pertapa itu sangat berbeda, lingkup di sekitar mereka, seperti ada tekanan kekuatan tersembunyi yang sangat mengerikan.



"Dari yang ku rasakan ini rupanya sedang terjadi pertarungan hebat di ujung utara sana, dari yang ku rasakan ini sepertinya bersumber dari area gunung Galunggung"



"Ooooo, lalu apa kau bisa menebak siapa saja yang tengah unjuk kekuatan itu?"



"Ada salah satu dari aura tenaga dalam yang ku kenali, namun lawannya….." suatu penjelasan yang menggantung. "Tak bisa dipercaya, tapi…. jika dirasa-rasa, aura yang luar biasa ini tidak salah lagi berasal dari dia, rupanya dia masih hidup."



"Hahahaha boleh jadi kita akan memiliki kesimpulan yang sama, aku juga menerka-nerka jika kekuatan hebat ini berasal dari orang itu."



"Maaf menyela, sepertinya tidak hanya bersumber dari satu arah, ada banyak sekali energi negatif yang sedang mendekat".



"Sepertinya kemampuan sensorikmu benar-benar jauh lebih sensitif sekarang."



"Ya ya ya tak hanya perempuan yang sedang kedatangan bulan saja yang boleh sensitif, kemampuan sensorik juga harus."



"Hahahahaha cabul sekali perumpaanmu itu, hendaknya ralat dengan kalimat yang lebih vulgar sekalian, agar lebih terdengar santun di telinga hahaha".



"HAHAHAHAHAA" tawa serentak seketika.



Lima orang pertapa membicarakan sesuatu yang ganjal yang mereka rasakan.

Nun jauh jaraknya, tapi karena mereka adalah orang-orang piawai sehingga mampu merasakan aura kekuatan hebat kendati dari radius yang sangat jauh.






Berpindah ke lain tempat.



"Pengguna jurus terkutuk ini tampaknya memiliki persepektif yang cerdik dan seperti sedang merancang skenario penting, sampai-sampai membangkitkan makhluk legendaris dari Kurawa, dan yang tak kalah mengejutkan adalah mendapati kenyataan seorang jendral militer sepertimu bisa digunakan menjadi tumbalnya, satu sisi juga menjadi sangat ironis, bukankah kabarnya kau sudah tewas?! lalu siapa di balik layar pengguna jurus ini, dan bagaimana bisa kau dijadikan bidak caturnya?"



"Hmmmm entahlah, aku juga tak tahu menahu siapa dalang yang menggunakan jurus terlarang ini, sedalam yang ku ingat, aku hampir sekarat akibat pertarunganku dengan Brawijaya Arjuna."



"Lalu bagaimana bisa kau akhirnya dijadikan wadah untuk membangkitkan Kurowo?"



"Mungkin saat hampir sekarat, dan kemudian Brawijaya meninggalkanku begitu saja, ada orang yang sempat menyelamatkan dan membawa kabur tubuhku, dan sepertinya inilah yang membuatku masih bisa bertahan." sembari menunjukkan bulatan kemilau cahaya merah jambu pada dada sebelah kirinya.



"Sasanalaya kah?"



"Yaa, dengan ditanamkan Sasanalaya ke dalam tubuh, kekuatannya mampu meregenerasi organ tubuh yang hancur sekalipun, sebab seharusnya secara normal aku sudah mati karena pedang Brawijaya tepat menghunus jantungku."



"Hooooo? demikian rupanya, artinya si Brawijaya itu juga merupakan sosok pendekar yang mengerikan. Ihwal kematianmu di tangan Brawijaya sangat mengguncang seantero negeri."



"Oh ya, karena semenjak ketidaksadaranku dan tersandra untuk dijadikan bakal wadah Sari Patining Rogo, aku jadi tidak tahu apa-apa lagi dan apa yang terjadi setelahnya, rasa-rasanya sudah berapa tahun saja."



"Tepat sekali, dirimu telah dinyatakan tewas beberapa tahun silam, dan namamu telah terkenang sebagai legenda. Hah, nampaknya gelar legendamu hanya akan bertahan sementara, sebab ternyata kau masih hidup, sepertinya kesenangan para berandalan akan kembali terganggu dengan kembalinya dirimu."



"Hahahaha, itu jika orang-orang tahu aku masih hidup, dan tergantung bagaimana kau bisa menutup mulutmu, Beno!"



"JIAAAAHHHHHAHAHA apa pentingnya sesumbar tentang kondisimu ke orang-orang. Saat dirimu dinyatakan mati, rasa-rasanya aku masih tak percaya, orang yang dijuluki Dewanya Kanuragan, paling ditakuti dan disegani, tapi bisa tumbang oleh Brawijaya, terlintas olehku ternyata kau tak setangguh yang digembar-gemborkan orang-orang, atau memang sudah sehebat itu si Brawijaya."



"Ya ya ya ya, sederhananya Brawijaya lah yang jauh lebih hebat karena hampir saja membuatkan janji temu dengan malaikat maut".



"Setelah kepergianmu, terjadi pergantian tiga jendral baru, setelah itu kubu militer dirombak besar-besaran, dampaknya bukan hal bagus tetapi kondisi negara malah semakin memprihatinkan terutama perihal keamanan, sebenarnya tak masalah untukku karena di periode-periode baru ini, aku dan kawananku bisa bebas melanglang buana tanpa ada intervensi dari pihak aparat. Tak ada kabar perburuan resmi tentang mafia-mafia besar atau bahkan preman-preman kere sekalipun, semua penjahat dari kelas atas sampai kelas teri aman sulaiman, tentram dan jaya sentosa di masa-masa ini.… hahahaha."



"Hmmmmm, jadi begitu rupanya, lalu siapa yang sekarang menjadi jenderal penggantiku?"



"Darmadi"



"Darmadi?"



"Iya, dialah yang kini menduduki posisi kosong jenderal setelah kau dinyatakan tewas di tangan Brawijaya."



"Hmmmmmm" sembari manggut-manggut.



"Apa menurutmu itu keputusan bijak, ketika seorang mantan berandalan itu justru yang diangkat jadi penggantimu? apa di kubu militer tidak ada kandidat lainnya yang lebih kompeten sampai-sampai mengangkat bajingan itu?"



"Huahahahahahaha sesama bajingan jangan saling mencemooh, bukankah kau seharusnya senang karena hal itu justru menguntungkanmu, apalagi jika kau bekerja sama dengannya maka dengan mudah kau bisa bermanuver memperluas wilayah jarahan dan kekuasaanmu."



"Kalian aparat juga sama keparatnya, jadi jangan merasa suci, sistem hukum yang kalian terapkan hanya demi melindungi kepentingan kalian, korporasi, investor dan kubu rezim, selain daripada itu, tak ada yang mendapatkan kepastian dari perlindungan hukum, selama ini kalian hanya bersembunyi di balik slogan tanpa arti. Pelindung? Pengayom? Penegak hukum? Hahahahahahaha semua hal baik yang kalian promosikan untuk mencitrakan diri kalian, hanyalah omong kosong."



"Jiaaaahahahahaha, seorang pemimpin desa culas dan keji sepertimu bisa-bisanya berbicara tentang suatu hal yang bijak, rasa-rasanya aku ingin muntah saja Beno".



"Justru keberadaan orang sepertiku yang masih tetap eksis dan berjaya, sebagai gambaran lemahnya penegakan hukum, itulah alasan mengapa orang seperti Brawijaya mengobrak-abrik markas militer, dan menghabisi beberapa petinggi serta orang-orang penting di dalamnya, sebagai bentuk protes atas dasar ketidakpuasan dengan kinerja kalian".



"Hahahahahahaha ya ya ya ya, kau ada benarnya, bukan berarti aku setuju tapi aku tak mengelak jika keadaan antero negeri Nusantara menjadi carut-marut seperti ini memang salah satunya karena lemahnya sistem hukum, untuk itulah aku justru bersyukur telah dihajar oleh Brawijaya, dengan begini aku bisa bebas dari lingkup sesat penegak hukum."



"Lalu apa tujuanmu sekarang, setelah dirimu terbebas dari jurus keparat itu? jangan bilang kau akan mengeksekusi ku di sini."



"Hohoho…. bukan ide yang buruk untuk menghabisi nyawa berandalan kelas kakap sepertimu Beno, ya anggap saja sebagai pemanasan."



"PE MA NA SAN katamu?" raut muka tersinggung atas ucapan yang syarat dengan bahasa meremehkan.



Aura di sekitar mendadak berubah, seketika angin bertiup kencang padahal sebelumnya sangat tenang, di tengah cekungan gunung Galunggung yang tak jauh dari tempat kedua pria itu berada, terdapat danau air panas, yang biasanya tenang kini menjadi bergejolak tak terkendali.



"Linggarjati Waseso, pantas dia dijuluki Dewanya Kanuragan, aku bisa merasakan kekuatannya yang sangat luar biasa, cakupan tenaga dalamnya dalam sekejap bisa melingkupi semua area di sekitarnya." tertegun dalam benak Beno Lintang, ketika ia bisa merasakan aura luar biasa dari pria di depannya yang merupakan mantan jenderal militer yang telah dinyatakan tewas.



Ialah Linggarjati Waseso.



Linggarjati: "Huh, tampaknya kau juga sudah sangat siap untuk melakukan peregangan otot Beno!!!!"



ZLRAAAAPAAAAHHHHH

Dari tubuh Beno Lintang, terhempas kilauan cahaya dari chakra tenaga dalamnya.



KRAAAAAAKKKK, retakan tanah terjadi di tempat Beno berpijak. "Kekesalanku telah memuncak, semenjak kesenanganku terganggu sehingga tidak tertuntaskan, ditambah lagi kedatanganmu sebagai wadah monters terkutuk yang merusak markasku, semakin membuat darahku mendidih. Aku tak akan ragu ataupun takut, kendati lawanku Dewa sekalipun akan ku hancurkan dia sampai memohon ampun kepadaku."



Linggarjati: "HAHAHAHAHAHA jumawa sekali ucapan kisanak satu ini. Tapi gara-gara menjadi monster itulah aku jadi tahu persembunyianmu, cerdik sekali kau kisanak, mendirikan markas di tempat yang ektrim seperti ini yang tidak pernah terpikirkan akan dijangkau banyak orang."



SRINGGGGGGGGGGGG



ZLAAAAMMMMMMM



Sebilah cahaya melesat cepat.



DUAAAAAAAAGGGGGGHHH



Rupanya itu adalah Beno yang melesat dengan kecepatan penuh lalu menghadiahi tendangan pada Linggarjati, yang diarahkan ke perutnya.



Kaki dengan tenaga dalam luar biasa menghantam telak ke perut Linggarjati.



JLAASHHHHHHHHH tubuh pria itu terpelanting jauh.



Tubuhnya berputar sangat masif di udara sebagai bagian dari efek tendangan yang luar biasa ia dapatkan.



SREKKKKKKK namun saat telah mendarat ke tanah, Linggarjati mampu berdiri stabil setelah terpental cukup jauh itu. "Hmmmmmmm, sangat serius sekali rupanya" ujarnya pelan.



SREKKKKK….!!!!!



Beno: "OOOOOHHH Silveria rupanya". dari kaki menuju paha Beno tiba-tiba ada semacam timah putih panas yang menyelimuti. "Kau kira hal ini bisa melumpuhkanku ya?"



CRAAAATTTTTTTT!!

DEPPP DEPP DEPPPPPP



Cairan abu-abu mengkilap (chrome) itu terhempas dari kaki Beno. Sebagian cairan yang melesat menghantam bebatuan gunung dan seketika bebatuan-bebatuan yang terhantam oleh cairan bak timah panas itu meleleh.



Tegap langkah Linggarjati.



Dan suara berderit terdengar dari tubuhnya.



SRETTT SLEEREETTT



Tatkala dari setiap sekujur kulitnya muncul timah putih hingga membalut hampir sebagian besar tubuh selain kepala, setelah beberapa saat, pria yang sebelumnya telanjang akibat ekstraksi Sari Patining Rogo, kini telah berbusana, yang anehnya dari cairan putih panas itu menjadi hitam, kini ia tampak mengenakan armor ala Shogun.



Linggarjati: "Beno Lintang, memang bukan sembarangan bajingan, ia bahkan bisa menetralisir pengaruh Silveria dengan mudahnya". dalam benaknya mengangumi kehebatan pria setengah baya itu.



CLIRAAAATTTT



BLAAAARRRRRRRRR



Sebuah kilatan petir menyambar-nyambar dari langit.



Sekujur badan Beno Lintang berbalut aliran listrik.



ZLAP



Dalam sekejap lurah yang juga pentolan mafia itu, telah berada di atas tempat Linggarjati berdiri.



GLAAAAAAAARRRRRRRRR



Ledakan terjadi tatkala Beno melancarkan tendangan ke kepala Linggarjati namun ditahan hanya menggunakan satu lengan tangan kirinya.



Linggarjati: "Tak sopan sekali, datang-datang menendang kepala orang, apakah sedari kecil dirimu tidak pernah diajarkan etika?" dengan sangat santai menanggapi serangan mematikan itu.



Retakan tanah yang sangat lebar terjadi akibat dari serangan Beno.



JLAAASZ



DRAAAAAAAANGGGG



KRETAAAAKKKKKKKK



Berkilah Linggarjati dari menangkis, akibatnya kaki Beno yang berbalut kekuatan luar biasa itu, meluncur ke bawah dan tendangannya menghantam tanah.



Akibatnya, lubang yang besar dan dalam pun terbentuk.



ZLAAAP.



Linggarjati memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang balik.



"Jiwa Rage Jotosan"



Tinju tangan yang berbalut kobaran api dilancarkan, dari arah belakang Beno.



DAGHHHH



BLUUUUAARRRRR



Pukulan itu dengan mudah ditangkis oleh Beno, tangan pria itu tampak berubah hitam legam, bermuatan tenaga dalam.



Kini kondisi kedua pria itu melayang-layang di udara karena tanah tempat mereka berpijak telah amblas sangat lebar dan dalam.



DAAANG



SLAAAANG



JRAAANGGG



WOOOOSSSH



Serangan demi serangan saling dilancarkan, adu kekuatan kanuragan kelas tinggi terjadi.

Imbasnya, area di sekitar mereka beradu kekuatan menjadi tak karuan.



Linggarjati: "Untuk pria berusia hampir 60 tahun, rupanya jiwa mudamu masihlah berkobar-kobar".



Beno: "HUAHAHAHA jangan merasa hebat hanya kau masih lebih muda dariku Linggarjati….."



ZAAAAAAAMMMMMMMMMMM



BLAAAARRRRRRRRRRRRRRRRR



Benturan kekuatan maha dahsyat dari keduanya, menghasilkan ledakan yang sangat mengerikan. Dampaknya, terjadi retakan dan pergeseran tanah di lingkup sekitarnya, tak hanya itu, air panas di kawah gunung Galunggung meluap, menyembur keluar, air panas meluap membanjiri sekujur lereng gunung Galunggung.



Lereng selatan gunung Galunggung juga meliputi area konsesi hutan lindung Wonopati yang pusatnya tengah terjadi kebakaran hebat.



Di saat orang-orang telah lelah berkutat memadamkan api ditambah belum sempat beristirahat, orang-orang harus bentrok dengan aparat, tatkala kobaran api telah mereda namun berganti dengan kobaran amarah yang pada akhirnya harus diredakan juga, di saat situasi belum sepenuhnya kondusif, ada getaran hebat yang dirasakan.

Yang getaran itu bersumber dari benturan kekuatan.



"Opo maneh iki aaahhhh?!!! WOEEEE!!!"

(Apa lagi ini ahh?! Woeee!!)



"WADOOOOOHHHH Gustiiiii"



"Lha kok ujug-ujug ono lindu tho iki"

(Lha kok tiba-tiba ada gempa tho ini).



Gempa yang luar biasa terjadi dan dirasakan oleh orang-orang yang tengah kelelahan seusai memadamkan kebakaran. Menciptakan kepanikan dan keputusan asaan.



____



Beno: "JIAAAAHAHAHAHAHAHA LUAR BIASAAAAAAAHHHHH, pantas saja kau dijuluki dewanya kanuragan, hiahahaha tak banyak orang yang bisa membuatku tertawa puas di dalam pertarungan."



Linggarjati: "Hmmmmm, rupanya tak sekedar omong kosong, dirimu juga sangat luar biasa, bisa mengimbangi salah satu jurus pamungkasku barusan."



Beno: "Jiaah rasanya kepalaku akan meledak, mendapatkan pujian dari dewanya kanuragan. Tapi satu hal yang besar kemungkinan terjadi.…."



Linggarjati: "Heeeeemmm?"



Beno: "Jika kita melanjutkan pertarungan ini, bukan tidak mungkin kita berdua hanya akan menghancurkan sekeliling kita, dan akan sangat merugikan bagi banyak pihak, tak ada faedahnya buang-buang energi untuk perkelahian yang tidak jelas dasar permasalahannya, aku akui ini murni hanya bersumber dari keegoisan lelaki, yang selalu mengedepankan harga diri".



Linggarjati: "HOHOHOHOHO, untuk seorang pria keji sepertimu masih memikirkan resiko dan dampak lingkungan, apa…."



Beno: "Jangan kau kira karena aku takut melawanmu."



Linggarjati: "Aku tak seangkuh itu untuk meremehkanmu YANG MULIA BENO"



Beno: "JIAHAHAHAHAHA ya ya ya, orang yang benar-benar hebat memang tak akan memandang lawan dengan sebelah mata. Bahkan kau begitu serius menghadapi pria tua ini".



Linggarjati: "Umur hanyalah angka, nyatanya anda masih memiliki kemampuan yang semengerikan ini, pantas saja anda dulu sempat menjadi pengawal rahasia dari 9 dewa"



Beno: "EHHHHHHHH??? bisa-bisanya kau tahu tentang masa laluku, yang bahkan orang-orang penting di pemerintahan pusat pun tak ada yang tahu".



Linggarjati: "Itulah gunanya memanfaatkan kesempatan yang ada selama masih memiliki wewenang, karena tugasku salah satunya adalah menangkap dan mengadili anda, jadi sudah seyogyanya mencari tahu sedemikian rinci tentang target yang akan ku tangkap, termasuk bagaimana hubunganmu dengan Brawijaya Arjuna saat ini, yang dikabarkan telah bergabung dengan kelompok mafia kelas kakap yang diprakarsai salah satunya oleh anda tuan Beno yang terhormat."



Beno: "Kecerdasan, kejelian dan bijak dalam menggapai sesuatu, serta dipadu dengan penguasaan semua unsur dasar elemen yang kemudian kau kembangkan dengan caramu sendiri, adalah kombinasi maut dan senjata mengerikan, lalu persepsi dan ketenanganmu dalam menganalisa itu saja sudah sering membuat lawan kewalahan, sebab karenanya serangan apapun menjadi mudah kau patahkan. Banyak cerita yang ku dengar tentang kehebatanmu, yang memang bukan omong kosong, karena kini aku melihat dengan mata kepala sendiri".



Linggarjati: "Apa artinya itu semua ketika pada akhirnya hanya berujung pada kegagalan? kenyataannya setelah peninggalanku pun keadaan Nusantara malah semakin tidak karuan".



Beno: "Hahahaha, justru itulah, Nusantara masih membutuhkan orang sepertimu untuk perubahan, aku ada tawaran yang bagus, kau tolak ataupun terima, yang jelas tidak akan merugikanku, malah kemungkinan akan membuatmu tertarik karena aku ada suatu rahasia yang selama ini dirimu pun juga mencarinya, aku akan memberitahukan kepadamu itupun jika kau mau menerima tawaranku."



Linggarjati: "Apa itu?"



Beno: "Tak bisa ku katakan di tempat seterbuka ini karena ini akan sangat beresiko, yaaa tentunya untuk dirimu dan instansi yang pernah kau naungi itu, untukku tidak begitu berpengaruh, jika kau minat ikuti aku! akan ku tunjukkan hal itu, kau pasti akan terkejut melihatnya."



Sekejap setelah itu, Beno Lintang melesat.

Bengong sesaat, namun kemudian Linggarjati menyusul mengikuti jejak lesat Beno yang super cepat, kendati demikian, Linggarjati mampu menyusulnya, saking cepatnya tak terasa lokasi bentrok sebelumnya telah jauh mereka tinggalkan. Hingga tiba di suatu tempat yang tampak di depan mata hanyalah tembok alam yang menjulang sangat tinggi yang terbentuk dari susunan alami bebatuan, sejauh kepala mendongak ke atas, seperti tak ada batasnya tinggi dari tembok alam, bahkan menembus hingga di atas awan.



Linggarjati: "Apa yang kau maksud itu ada di atas sana atau ada di balik tembok bebatuan ini?"



Beno: "Dinding alami ini hanyalah batas, untuk bisa menjangkau apa yang ada di dalamnya, dibutuhkan segel khusus, yaitu pituduh songo arah, untungnya aku bisa melakukannya dan aku yakin kau pun menguasai teknik itu, dan jika kita kombinasi maka akan lebih bagus untuk menghemat energi kanuragan kita, mengingat pituduh songo arah adalah teknik tingkat tinggi yang sangat menguras tenaga"



Linggarjati: "Hmmmm?!!"



Beno: "Apa kau siap" kemudian kedua telapak tangannya mengatup. TAP.



Yang kemudian diikuti juga oleh Linggarjati. "Sepertinya rasa penasaranku lebih mendominasi daripada rasa pertimbangan dan kekhawatiranku". TAP



"PITUDUH SONGO ARAH" keduanya serempak merapal jurus segel yang merupakan segel tertinggi yang bisa membuka gerbang trans dimensi, atau juga bisa untuk perpindahan ruang dan waktu dalam waktu yang singkat.



Lalu. DREETTTTTTTT



Sebuah pintu raksasa tiba-tiba muncul, dan terbukalah pintu itu perlahan. Setelahnya, kedua pria itu berjalan menuju pintu raksasa itu dan masuk ke dalamnya, yang di dalamnya terlihat suatu pemandangan yang menakjubkan.



Linggarjati: "Ini…..???"



Bersambung


Komentar