“Iya.. baiiiiiikk kok” dengan tiba-
tiba Jaka menghentakkan pinggulnya
membuat Anisa menjerit tertahan
saat bicara. Anisa menatap kesal ke
Jaka lalu mencubit pelan pahanya.
Tapi Jakanya hanya cengengesan
saja.
“Gak ada apa-apa kok pah.. Gimana
kabar mama pa? ngghh.. udah
baikan?” Tanya Anisa mengalihkan
perhatian.
“Oohh.. sukur deh”
“Papa mau bicara sama Niko?” tanya
Anisa ke suaminya sambil melirik ke
Niko.
“Niko, nih Papa kamu mau ngomong..”
kata Anisa menyerahkan ponsel itu ke
Niko.
“Halo pa”
“Halo Niko, gimana keadaan rumah?
Kamu jaga mama dan adik kamu
dengan baik kan?” tanya Papanya
dari seberang telpon. Niko sedikit
tertegun mendengar pertanyaan
menjaga mamanya dengan baik
tersebut. Ya.. itu karena mamanya
kini sedang disetubuhi orang lain,
terlebih mamanya juga sedang
menyepong penisnya.
“I..iya Pa, baik kok.. lagian di sini
Niko juga ajak Jaka kok buat jagain
mama” jawab Niko. Papanya yang
mendengar jawaban Niko tentu saja
tidak mempunyai pikiran yang aneh-
aneh. Tapi sayang Papanya tidak
mengetahui maksud sebenarnya dari
jawaban anaknya itu.
“Ohh.. bagus deh”
“Jaka, tuh suami tante di telpon,
berani emang kamu bilang?” kata
Anisa menantang bermain api. Entah
apa yang ada dipikiran Anisa
menantang Jaka seperti itu. Anisa
sepertinya jadi bergairah dengan
kenekatannya ini.
“Berani kok, Om.. tantenya lagi Jaka
entot nih..” kata Jaka pelan, yang
tentunya tidak akan terdengar dari
ponsel yang sedang dipakai Niko.
“Hihi.. beraninya jauh-jauh.. pelan
lagi” kata Anisa makin menantang.
“Om.. istrinya Jaka entot nih..” kata
Jaka lebih keras, untung saja masih
belum terdengar oleh Panji. Niko
yang sedang ngobrol dengan Papanya
juga jadi panas dingin dibuatnya.
Sebenarnya Anisa tidak ingin juga
kalau suaminya betul-betul
mengetahui keadaan dirinya seperti
sekarang ini, entah apa jadinya. Tapi
dia sangat menikmati sensasi ini, dia
ingin lebih nekat lagi, ingin lebih
hampir ketahuan lagi.
“Niko, coba hidupin speaker
ponselnya..” suruh Anisa ke anaknya.
Niko sendiri juga bingung dengan
kenekatan mamanya. Apa mamanya
tidak takut ketahuan apa? pikirnya,
tapi dia lihat mamanya malah tertawa
tertahan sambil menempelkan
telunjuk ke mulut ke arah mereka
berdua sebagai isyarat agar tidak
berisik. Nikopun menuruti permintaan
mamanya untuk menyalakan speaker
ponsel. Jadilah kini suara Papanya
dapat terdengar oleh mereka bertiga,
termasuk juga suara mereka bertiga
yang akan dapat terdengar oleh
suami Anisa. Bagi anisa, ini hampir
memenuhi fantasinya. Bersetubuh
dengan pria lain sambil mendengar
suara suaminya yang tidak tahu apa-
apa itu dari seberang telepon.
Keadaan ini semakin membuatnya
bergairah, vaginanya semakin becek.
Sensasinya begitu nikmat dirasakan
olehnya, dia ingin lebih lagi. Anisa
mencoba sedikit memperkuat suara
desahannya, begitu pula Jaka yang
sedang menyetubuhinya dari belakang
juga ikut-ikutan memperkuat
desahannya. Suara paha Jaka yang
menampar-nampar pantat Anisa juga
makin keras terdengar. Sedangkan
Niko masih asik melayani obrolan
Papanya sambil penisnya masih
dikocok dan dijilati Anisa.
“Niko suara apa ya itu? Kok berisik
amat?” tanya Panji heran dari
seberang telpon.
“Eh.. anu pa itu.. a.. anu..” Niko
sendiri tidak tahu tidak tahu harus
menjawab apa. Anisa yang melihat
anaknya panik memberi kode pada
Niko untuk mendekatkan ponsel itu
padanya.
“Ngh.. Iya pa?” kata Anisa mengambil
alih pembicaraan dari Niko. Tapi
tetap dia masih dalam keadaan
menyerahkan tubuh indahnya
disetubuhi Jaka dan tangannya tetap
mengocok penis Niko.
“Suara berisik apan tuh ma? Terus
kok mama ngos-ngosan gitu?” tanya
Panji lagi.
“Nggh.. gak kok pah.. ini mama
sedang dien..” sebenarnya dia
penasaran apa jadinya kalau dia
meneruskan kata-katanya
mengatakan kalau sedang dientot
Jaka. Tapi dia tidak mungkin
mengatakannya.
“Lagi apa mah?” tanya suaminya
makin heran dan penasaran.
“Ah.. gak kok.. mama ada disana pa?
aku mau ngomong dong..” kata Anisa
mengalihkan pembicaraan ingin
bicara dengan mertuanya. Panji yang
masih bingung akhirnya harus
merelakan rasa penasarannya dulu.
Dia serahkan juga ponsel ke ibunya
yang memang ada di dekatnya
sekarang.
“Halo” sapa mertua Anisa.
“Assalamualaikum ma, Udah baikan
ma?” tanya Anisa sopan. Kini posisi
Jaka digantikan oleh Niko. Mereka
mengobrol ringan selama beberapa
saat dengan kondisi Anisa masih
disetubuhi Niko. Tentu dengan Anisa
tetap sesekali menahan desahan dan
dengan nafas beratnya mengobrol
dengan mertuanya, untung saja
mertuanya tidak terlalu memikirkan
hal tersebut. Entah apa yang akan
terjadi jika mertuanya melihat
menantunya melakukan perbuatan gila
dengan cucu dan teman cucunya
seperti sekarang ini. Sosok menantu
yang ia ketahui sopan dan saleh pada
suaminya ternyata kini sedang
mengkhianati kepercayaan suaminya
dan sedang asik berzinah ria.
Sungguh bertolak belakang dengan
yang diketahui mertuanya selama ini.
Mereka akhirnya menyudahi acara
teleponan itu. Anisa sendiri juga
harus tetap waspada agar suaminya
tidak terlalu curiga. Dia pikir cukup
demikian untuk hari ini. Ya.. mungkin
suatu saat dia bisa menunjukkan
pada suaminya sesuatu yang lebih,
dia penasaran kapan hari itu akan
datang dan bagaimana reaksi
suaminya pada hari itu. Dia ingin
melihat wajah suaminya pada saat itu
tiba.
Disana, saat ini suaminya masih
bingung sendiri, dia menjadi sedikit
curiga apa yang sedang istrinya
lakukan disana. Mesti dia tidak
berani berandai-andai berfikir
buruk terlalu jauh tentang apa yang
sebenarnya istrinya lakukan disana.
Tapi memang itulah kenyataan yang
tidak diketahui olehnya. Istrnya
memang sudah berbuat terlalu jauh,
bersetubuh dengan anaknya sendiri
dan teman-teman anaknya.
Hari-hari selanjutnya selama Panji
pergi, Anisa tetap menjadi
pelampiasan kedua remaja tersebut.
Beberapa kali juga mereka teleponan
seperti saat itu. Anisa teleponan
dengan suaminya sambil melayani
penis Jaka dan Niko. Bahkan pernah
tidak hanya mereka berdua. Tapi
bertambah beberapa pria teman
Jaka yang menikmati tubuh Anisa.
Menggrepe-grepe tubuh indah Anisa
yang seharusnya milik suaminya.
Memainkan buah dada dan menyedot
susu Anisa yang seharusnya milik
Windy secara bersamaan. Semuanya
mereka lakukan saat Anisa asik
berbincang dengan suaminya di
telepon.
“Ma, kok suasana ramai amat ya?
Lagi dimana kamu?” tanya Panji
curiga.
“Lagi nggmhh.. di rumah kok pa, ini
Niko ajak teman-temannya main
kesini, ramai amat.. aah.. aw.. geli”
“Geli? Kenapa kamu sayang?”
“Eh, gak kok pa.. Windy nih lagi
minum susu” jawab Anisa ngeles.
Panji sedikit tidak enak juga
memikirkan Anisa sedang menyusui
Windy di antara teman-teman Niko
yang sepertinya sangat ramai itu.
Tapi sebenarnya yang terjadi lebih
sadis dari yang dipikirkan Panji.
Anisa bukan sedang menyusui Windy,
tapi sebenarnya sedang menyusui dua
orang remaja sekaligus, bahkan
kedua orang itu menggigit-gigit dan
menarik-narik puting Anisa dengan
gigi mereka membuat air susu Anisa
muncrat-muncrat. Pria-pria lainnya
di sana bahkan tampak lebih tua dari
Jaka, ada juga yang tubuhnya begitu
kurus yang tampak seperti seorang
pecandu. Mereka dengan leluasanya
memainkan vagina serta menggelitik
dan menjilati bagian-bagian tubuh
Anisa yang lain seperti wajah Anisa.
Rangsangan yang begitu banyak lah
yang sebenarnya membuat Anisa
kegelian, bukan karena isapan Windy
seperti yang Anisa katakan.
“Terus kamu sendiri udah makan kan
ma?” tanya Panji.
“….”
“Ma?? Haloo? Masih disana mah?”
“….. Eh.. iya pah.. masih kok, apa
tadi pa?” tanya Anisa lagi.
“Udah makan belum? Ngelamun
kamu?”
“Udah kok pa.. gak ngelamun kok,
cuma Windynya lagi aktif banget”
ngeles Anisa. Bisa-bisanya Anisa
berbohong, padahal yang terjadi
sebenarnya adalah Anisa sedang
menerima ciuman buas dari pria
disana. Yang membuat obrolan Anisa
harus terhenti dengan suaminya
karena ciuman yang tiba-tiba ini.
Suara desahan Anisa juga terdengar
semakin sering saja ketika mereka
mengobrol. Walau Anisa berusaha
menahan dan menutupinya, tapi tidak
dapat dielakkan kalau itu memang
suara desahan istrinya yang sedang
merintih kenikmatan. Apa yang
sebenarnya terjadi? batin Panji.
Panji tidak ingin memikirkan hal
buruk tentang istrinya. Tidak
mungkin Anisa mengkhianatinya.
Istrinya yang dia kenal selama ini
begitu santun dan sopan terhadap
dirinya. Sosok istri yang sempurna
bagi dirinya dan anak-anaknya. Mana
mungkin.. ya.. mana mungkin, pikir
Panji.
“Ma.. udah dulu ya” kata Panji, dia
tidak ingin lebih berperasangka
buruk pada istrinya itu kalau ini
tetap dilanjutkan, lebih baik dia
hentikan obrolan yang membuatnya
risau ini.
“Kok udahan pa?” tanya Anisa yang
sepertinya masih penasaran
bagaimana yang akan terjadi
selanjutnya. Entah kenapa Anisa jadi
ingin memancing rasa penasaran
suaminya itu lebih jauh. Dia masih
belum puas, dia masih ingin
meneruskan ini hingga benar-benar
sampai hampir ketahuan. Sungguh
gila memang, tapi itulah sensasi yang
Anisa ingin raih.
“Papa ada urusan bentar.. udah yah
ma.. bye.. muach” kata Panji yang
memang ingin menyudahi.
“Ya udah deh pa.. bye.. muach..”
saat mengatakan muach itu
sebenarnya Anisa malah mencium
bibir salah satu pria disana. Sungguh
menyakitkan hati bila Panji
mengetahui ciuman itu bukan
ditujukan padanya.
“Udah ah kalian dari tadi keroyokan
mulu.. Kamu juga Jaka, mulut kamu
ember banget pake ngajak teman
kamu” kata Anisa setelah menutup
telpon. Jakanya hanya cengengesan
saja.
“Lebih hot tante kalau keroyokan
gini.. kapan lagi bisa nge-gangbang
istri orang secantik tante.. hehe”
kata salah satu dari mereka sambil
tetap mengorek-ngorek vaginanya
yang namanya bahkan Anisa tidak
ingat. Anisa hanya berusaha melawan
dengan mengapitkan kakinya
sehingga tangan pria itu tampak
terjepit di pahanya, tangannya juga
memegang tangan pria itu agar tidak
lebih liar lagi bergeriliya mengorek
liang vaginanya. Tapi hal itu malah
menjadi sebuah pemandangan yang
terlihat menggairahkan bagi mereka.
“Huh, Dasar kalian calon-calon
preman mesum.. ya udah deh.. lakuin
sesuka kalian.. hmm.. kalau kalian mau
tante juga bakal pinjamin tubuh
tante untuk nurutin semua fantasi
mesum kalian.. asal gak gila-gila
amat.. hihi”
“Wah.. Benar yah tante? Hehe..”
“Iya.. sayaaang..” kata Anisa
tersenyum pada mereka. Kemudian
dilanjutkan lah kembali acara
gangbang liar itu. Mereka dengan
seenaknya menyetubuhi bini orang
secantik Anisa di rumahnya sendiri.
Menguras semua kenikmatan dari
seorang ibu di depan anak-anaknya.
Melampiaskan fantasi-fantasi erotis
mereka yang selama ini hanya ada di
dalam benak mesum mereka.
Sedangkan di sana, Panji merenung
sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
Dia risau apa yang sebenarnya
istrinya lakukan di sana. Tidak
mungkin istriku membohongiku
bukan? Dia tidak pernah berbohong
padaku selama yang aku tahu, kata
Panji membatin. Iya.. dia istriku yang
setia, bodoh, kenapa aku sampai
menganggapnya berbohong padaku,
mana mungkin dirinya bermain
dibelakangku. Terjadi perang batin
di hati Panji, di antara harus
mempercayai istrinya atau rasa
curiga terhadap istrinya.
Tapi dia pikir tidak ada salahnya
mencari kebenaran, itu lebih baik
dari pada dia terus dihantui rasa
curiga dan tidak melakukan apa-apa
sama sekali. Dia tidak ingin dibodohi
istrinya meskipun dia masih yakin dan
percaya istrinya tidak akan mungkin
melakukannya. Dia putuskan pulang
lebih cepat dari jadwal yang dia
katakan sebelumnya pada istrinya.
Seharusnya Panji pulang dua hari
lagi. Tapi dia putuskan untuk kembali
besok. Panji harap semua dugaan
buruknya itu salah.
tiba Jaka menghentakkan pinggulnya
membuat Anisa menjerit tertahan
saat bicara. Anisa menatap kesal ke
Jaka lalu mencubit pelan pahanya.
Tapi Jakanya hanya cengengesan
saja.
“Gak ada apa-apa kok pah.. Gimana
kabar mama pa? ngghh.. udah
baikan?” Tanya Anisa mengalihkan
perhatian.
“Oohh.. sukur deh”
“Papa mau bicara sama Niko?” tanya
Anisa ke suaminya sambil melirik ke
Niko.
“Niko, nih Papa kamu mau ngomong..”
kata Anisa menyerahkan ponsel itu ke
Niko.
“Halo pa”
“Halo Niko, gimana keadaan rumah?
Kamu jaga mama dan adik kamu
dengan baik kan?” tanya Papanya
dari seberang telpon. Niko sedikit
tertegun mendengar pertanyaan
menjaga mamanya dengan baik
tersebut. Ya.. itu karena mamanya
kini sedang disetubuhi orang lain,
terlebih mamanya juga sedang
menyepong penisnya.
“I..iya Pa, baik kok.. lagian di sini
Niko juga ajak Jaka kok buat jagain
mama” jawab Niko. Papanya yang
mendengar jawaban Niko tentu saja
tidak mempunyai pikiran yang aneh-
aneh. Tapi sayang Papanya tidak
mengetahui maksud sebenarnya dari
jawaban anaknya itu.
“Ohh.. bagus deh”
“Jaka, tuh suami tante di telpon,
berani emang kamu bilang?” kata
Anisa menantang bermain api. Entah
apa yang ada dipikiran Anisa
menantang Jaka seperti itu. Anisa
sepertinya jadi bergairah dengan
kenekatannya ini.
“Berani kok, Om.. tantenya lagi Jaka
entot nih..” kata Jaka pelan, yang
tentunya tidak akan terdengar dari
ponsel yang sedang dipakai Niko.
“Hihi.. beraninya jauh-jauh.. pelan
lagi” kata Anisa makin menantang.
“Om.. istrinya Jaka entot nih..” kata
Jaka lebih keras, untung saja masih
belum terdengar oleh Panji. Niko
yang sedang ngobrol dengan Papanya
juga jadi panas dingin dibuatnya.
Sebenarnya Anisa tidak ingin juga
kalau suaminya betul-betul
mengetahui keadaan dirinya seperti
sekarang ini, entah apa jadinya. Tapi
dia sangat menikmati sensasi ini, dia
ingin lebih nekat lagi, ingin lebih
hampir ketahuan lagi.
“Niko, coba hidupin speaker
ponselnya..” suruh Anisa ke anaknya.
Niko sendiri juga bingung dengan
kenekatan mamanya. Apa mamanya
tidak takut ketahuan apa? pikirnya,
tapi dia lihat mamanya malah tertawa
tertahan sambil menempelkan
telunjuk ke mulut ke arah mereka
berdua sebagai isyarat agar tidak
berisik. Nikopun menuruti permintaan
mamanya untuk menyalakan speaker
ponsel. Jadilah kini suara Papanya
dapat terdengar oleh mereka bertiga,
termasuk juga suara mereka bertiga
yang akan dapat terdengar oleh
suami Anisa. Bagi anisa, ini hampir
memenuhi fantasinya. Bersetubuh
dengan pria lain sambil mendengar
suara suaminya yang tidak tahu apa-
apa itu dari seberang telepon.
Keadaan ini semakin membuatnya
bergairah, vaginanya semakin becek.
Sensasinya begitu nikmat dirasakan
olehnya, dia ingin lebih lagi. Anisa
mencoba sedikit memperkuat suara
desahannya, begitu pula Jaka yang
sedang menyetubuhinya dari belakang
juga ikut-ikutan memperkuat
desahannya. Suara paha Jaka yang
menampar-nampar pantat Anisa juga
makin keras terdengar. Sedangkan
Niko masih asik melayani obrolan
Papanya sambil penisnya masih
dikocok dan dijilati Anisa.
“Niko suara apa ya itu? Kok berisik
amat?” tanya Panji heran dari
seberang telpon.
“Eh.. anu pa itu.. a.. anu..” Niko
sendiri tidak tahu tidak tahu harus
menjawab apa. Anisa yang melihat
anaknya panik memberi kode pada
Niko untuk mendekatkan ponsel itu
padanya.
“Ngh.. Iya pa?” kata Anisa mengambil
alih pembicaraan dari Niko. Tapi
tetap dia masih dalam keadaan
menyerahkan tubuh indahnya
disetubuhi Jaka dan tangannya tetap
mengocok penis Niko.
“Suara berisik apan tuh ma? Terus
kok mama ngos-ngosan gitu?” tanya
Panji lagi.
“Nggh.. gak kok pah.. ini mama
sedang dien..” sebenarnya dia
penasaran apa jadinya kalau dia
meneruskan kata-katanya
mengatakan kalau sedang dientot
Jaka. Tapi dia tidak mungkin
mengatakannya.
“Lagi apa mah?” tanya suaminya
makin heran dan penasaran.
“Ah.. gak kok.. mama ada disana pa?
aku mau ngomong dong..” kata Anisa
mengalihkan pembicaraan ingin
bicara dengan mertuanya. Panji yang
masih bingung akhirnya harus
merelakan rasa penasarannya dulu.
Dia serahkan juga ponsel ke ibunya
yang memang ada di dekatnya
sekarang.
“Halo” sapa mertua Anisa.
“Assalamualaikum ma, Udah baikan
ma?” tanya Anisa sopan. Kini posisi
Jaka digantikan oleh Niko. Mereka
mengobrol ringan selama beberapa
saat dengan kondisi Anisa masih
disetubuhi Niko. Tentu dengan Anisa
tetap sesekali menahan desahan dan
dengan nafas beratnya mengobrol
dengan mertuanya, untung saja
mertuanya tidak terlalu memikirkan
hal tersebut. Entah apa yang akan
terjadi jika mertuanya melihat
menantunya melakukan perbuatan gila
dengan cucu dan teman cucunya
seperti sekarang ini. Sosok menantu
yang ia ketahui sopan dan saleh pada
suaminya ternyata kini sedang
mengkhianati kepercayaan suaminya
dan sedang asik berzinah ria.
Sungguh bertolak belakang dengan
yang diketahui mertuanya selama ini.
Mereka akhirnya menyudahi acara
teleponan itu. Anisa sendiri juga
harus tetap waspada agar suaminya
tidak terlalu curiga. Dia pikir cukup
demikian untuk hari ini. Ya.. mungkin
suatu saat dia bisa menunjukkan
pada suaminya sesuatu yang lebih,
dia penasaran kapan hari itu akan
datang dan bagaimana reaksi
suaminya pada hari itu. Dia ingin
melihat wajah suaminya pada saat itu
tiba.
Disana, saat ini suaminya masih
bingung sendiri, dia menjadi sedikit
curiga apa yang sedang istrinya
lakukan disana. Mesti dia tidak
berani berandai-andai berfikir
buruk terlalu jauh tentang apa yang
sebenarnya istrinya lakukan disana.
Tapi memang itulah kenyataan yang
tidak diketahui olehnya. Istrnya
memang sudah berbuat terlalu jauh,
bersetubuh dengan anaknya sendiri
dan teman-teman anaknya.
Hari-hari selanjutnya selama Panji
pergi, Anisa tetap menjadi
pelampiasan kedua remaja tersebut.
Beberapa kali juga mereka teleponan
seperti saat itu. Anisa teleponan
dengan suaminya sambil melayani
penis Jaka dan Niko. Bahkan pernah
tidak hanya mereka berdua. Tapi
bertambah beberapa pria teman
Jaka yang menikmati tubuh Anisa.
Menggrepe-grepe tubuh indah Anisa
yang seharusnya milik suaminya.
Memainkan buah dada dan menyedot
susu Anisa yang seharusnya milik
Windy secara bersamaan. Semuanya
mereka lakukan saat Anisa asik
berbincang dengan suaminya di
telepon.
“Ma, kok suasana ramai amat ya?
Lagi dimana kamu?” tanya Panji
curiga.
“Lagi nggmhh.. di rumah kok pa, ini
Niko ajak teman-temannya main
kesini, ramai amat.. aah.. aw.. geli”
“Geli? Kenapa kamu sayang?”
“Eh, gak kok pa.. Windy nih lagi
minum susu” jawab Anisa ngeles.
Panji sedikit tidak enak juga
memikirkan Anisa sedang menyusui
Windy di antara teman-teman Niko
yang sepertinya sangat ramai itu.
Tapi sebenarnya yang terjadi lebih
sadis dari yang dipikirkan Panji.
Anisa bukan sedang menyusui Windy,
tapi sebenarnya sedang menyusui dua
orang remaja sekaligus, bahkan
kedua orang itu menggigit-gigit dan
menarik-narik puting Anisa dengan
gigi mereka membuat air susu Anisa
muncrat-muncrat. Pria-pria lainnya
di sana bahkan tampak lebih tua dari
Jaka, ada juga yang tubuhnya begitu
kurus yang tampak seperti seorang
pecandu. Mereka dengan leluasanya
memainkan vagina serta menggelitik
dan menjilati bagian-bagian tubuh
Anisa yang lain seperti wajah Anisa.
Rangsangan yang begitu banyak lah
yang sebenarnya membuat Anisa
kegelian, bukan karena isapan Windy
seperti yang Anisa katakan.
“Terus kamu sendiri udah makan kan
ma?” tanya Panji.
“….”
“Ma?? Haloo? Masih disana mah?”
“….. Eh.. iya pah.. masih kok, apa
tadi pa?” tanya Anisa lagi.
“Udah makan belum? Ngelamun
kamu?”
“Udah kok pa.. gak ngelamun kok,
cuma Windynya lagi aktif banget”
ngeles Anisa. Bisa-bisanya Anisa
berbohong, padahal yang terjadi
sebenarnya adalah Anisa sedang
menerima ciuman buas dari pria
disana. Yang membuat obrolan Anisa
harus terhenti dengan suaminya
karena ciuman yang tiba-tiba ini.
Suara desahan Anisa juga terdengar
semakin sering saja ketika mereka
mengobrol. Walau Anisa berusaha
menahan dan menutupinya, tapi tidak
dapat dielakkan kalau itu memang
suara desahan istrinya yang sedang
merintih kenikmatan. Apa yang
sebenarnya terjadi? batin Panji.
Panji tidak ingin memikirkan hal
buruk tentang istrinya. Tidak
mungkin Anisa mengkhianatinya.
Istrinya yang dia kenal selama ini
begitu santun dan sopan terhadap
dirinya. Sosok istri yang sempurna
bagi dirinya dan anak-anaknya. Mana
mungkin.. ya.. mana mungkin, pikir
Panji.
“Ma.. udah dulu ya” kata Panji, dia
tidak ingin lebih berperasangka
buruk pada istrinya itu kalau ini
tetap dilanjutkan, lebih baik dia
hentikan obrolan yang membuatnya
risau ini.
“Kok udahan pa?” tanya Anisa yang
sepertinya masih penasaran
bagaimana yang akan terjadi
selanjutnya. Entah kenapa Anisa jadi
ingin memancing rasa penasaran
suaminya itu lebih jauh. Dia masih
belum puas, dia masih ingin
meneruskan ini hingga benar-benar
sampai hampir ketahuan. Sungguh
gila memang, tapi itulah sensasi yang
Anisa ingin raih.
“Papa ada urusan bentar.. udah yah
ma.. bye.. muach” kata Panji yang
memang ingin menyudahi.
“Ya udah deh pa.. bye.. muach..”
saat mengatakan muach itu
sebenarnya Anisa malah mencium
bibir salah satu pria disana. Sungguh
menyakitkan hati bila Panji
mengetahui ciuman itu bukan
ditujukan padanya.
“Udah ah kalian dari tadi keroyokan
mulu.. Kamu juga Jaka, mulut kamu
ember banget pake ngajak teman
kamu” kata Anisa setelah menutup
telpon. Jakanya hanya cengengesan
saja.
“Lebih hot tante kalau keroyokan
gini.. kapan lagi bisa nge-gangbang
istri orang secantik tante.. hehe”
kata salah satu dari mereka sambil
tetap mengorek-ngorek vaginanya
yang namanya bahkan Anisa tidak
ingat. Anisa hanya berusaha melawan
dengan mengapitkan kakinya
sehingga tangan pria itu tampak
terjepit di pahanya, tangannya juga
memegang tangan pria itu agar tidak
lebih liar lagi bergeriliya mengorek
liang vaginanya. Tapi hal itu malah
menjadi sebuah pemandangan yang
terlihat menggairahkan bagi mereka.
“Huh, Dasar kalian calon-calon
preman mesum.. ya udah deh.. lakuin
sesuka kalian.. hmm.. kalau kalian mau
tante juga bakal pinjamin tubuh
tante untuk nurutin semua fantasi
mesum kalian.. asal gak gila-gila
amat.. hihi”
“Wah.. Benar yah tante? Hehe..”
“Iya.. sayaaang..” kata Anisa
tersenyum pada mereka. Kemudian
dilanjutkan lah kembali acara
gangbang liar itu. Mereka dengan
seenaknya menyetubuhi bini orang
secantik Anisa di rumahnya sendiri.
Menguras semua kenikmatan dari
seorang ibu di depan anak-anaknya.
Melampiaskan fantasi-fantasi erotis
mereka yang selama ini hanya ada di
dalam benak mesum mereka.
Sedangkan di sana, Panji merenung
sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
Dia risau apa yang sebenarnya
istrinya lakukan di sana. Tidak
mungkin istriku membohongiku
bukan? Dia tidak pernah berbohong
padaku selama yang aku tahu, kata
Panji membatin. Iya.. dia istriku yang
setia, bodoh, kenapa aku sampai
menganggapnya berbohong padaku,
mana mungkin dirinya bermain
dibelakangku. Terjadi perang batin
di hati Panji, di antara harus
mempercayai istrinya atau rasa
curiga terhadap istrinya.
Tapi dia pikir tidak ada salahnya
mencari kebenaran, itu lebih baik
dari pada dia terus dihantui rasa
curiga dan tidak melakukan apa-apa
sama sekali. Dia tidak ingin dibodohi
istrinya meskipun dia masih yakin dan
percaya istrinya tidak akan mungkin
melakukannya. Dia putuskan pulang
lebih cepat dari jadwal yang dia
katakan sebelumnya pada istrinya.
Seharusnya Panji pulang dua hari
lagi. Tapi dia putuskan untuk kembali
besok. Panji harap semua dugaan
buruknya itu salah.
Komentar