Langsung ke konten utama

Cerita Seks Sedarah | Gara-Gara Sapi 2

Setelah beberapa saat “Kamu mau
susu?”
Kubilang iya lalu mandi. Selesai mandi ibu
memberi susu. Kami berdua minum susu
sambil duduk.
“Ibu tahu yang tadi juju lakukan tak
terpikirkan dan tak sengaja. Tapi, tolong
jangan membicarakannya lagi.”
“TIDAK bu, kenapa aku harus
melupakannya?”
“Ibu tak tahu. Kadang kamu melakukan
sesuatu tanpa dipikir dahulu.”
“Aku takkan melupakannya bu!”
Hening.
“Apa maksudmu tadi soal ayah?”
“Memangnya apa yang kubilang? Aku
tak bilang apa – apa.”
“Kamu bilang ayah tak bisa dipercaya.”
“Aku hanya bilang mungkin. Tapi aku
tak yakin.”
“Tidak, tadi justru terdengar yakin.
Bicara juju!”
“Tidak. Memang tak ada apa – apa.”
“Ibu mohon ju. Ibu perlu tahu.”
“Tidak. Percuma saja tak ada
gunanya.”
“Ada. Jika juju jujur, ibu bisa mengerti
kenapa juju perkosa ibu.”
Aku tak enak mendengarnya.
“Sekarang kasih tahu ibu yang
sebenarnya.
Hening.
“Juju melihat ayah dan bibi di dekat
kandang sapi kemarin.”
Hening.
“Apa juju yakin? Mungkin mereka hanya
sedang ngobrol!”
“Tidak bu.”
“Apa mereka lihat juju?”
“Ya.”
“Terus ?”
“Mereka mecoba kabur.”
“Ibu masih tak percaya.”
“Juju bilang juju melihatnya. Kalau ibu
pingin tahu lagi, ibu mesti bayar.” Aku
bercanda.
“Juju sudah ngerasain tubuh ibu. Apa
lagi yang juju mau?”
“Juju ingin lagi.” Aku berimprovisasi.
Ibu terkejut.
“Juju suka tubuh ibu kan? Oke, jika juju
bisa kasih bukti ayahmu dengan bibimu,
maka ibu akan lepas pakaian ibu dan tidur
dengan juju!”
“Yakin? Janji?”
“Ibumu tak pernah ingkar janji.”
“Lalu pake baju ibu dan ayo ikut juju!”
“Apa? Kenapa… secepat ini?”
“Ya. Mungkin kita akan beruntung!”
“Ibu sudah dibaju. Tunggu sebentar
lagi pasakan mau mateng.”
“Oke.”
Beberapa menit kemudian ibu siap pergi
dan kami pun ke ladang. Kami mengambil
jalan pintas agar tak ada orang yang
melihat. Kami pun sampai ke dekat
kandang sapi. Kusuruh ibu sembunyi
dekat semak dan melihat ke arah lebak
(seperti lebak bulus)
Lalu kami diam. Menunggu dalam
lindungan semak. Tapi sampai sore, tak
ada apa pun. Kami pun pulang sambil ibu
marah marah karena merasa dibohongi.
Esok paginya, beberapa saat setelah
ayah keluar rumah, kembali kubawa ibu ke
semak kemarin. Setelah sampai akhirnya
kami melihat mereka. Mereka sedang
berciuman sambil berbaring dan ayah ada
di atas bibi. Akhirnya rencanaku berhasil.
Saat ibu melihat ayah ngentot, aku
melihat tubuh ibuku. Lalu ibu tak tahan
lagi dan cepat pulang. Aku mengikutinya
seperti anjing mengikuti betinanya. Ibu
pulang sambil mengutuk ayah.
“Anjing dasar goblok. Akan kubunuh
mereka!”
“Setelah ibu memuaskan juju!”
Kulihat ibu pergi ke dapur. Ia tetap
mengutuk sebentar, lalu mencoba
menenangkan diri. Setelah kulihat ada
kesempatan, aku pun bersua.
“Ibu akan memenuhi janji ibu kan?”
“Ibu akan menepati janji ibu.”
Ibu melihatku dan mendikatiku sambil
membuka dasternya. Bh dan cd nya juga
dilepasnya.
“Ayo ju. Tubuh ini milik juju. Entot ibu,
puaskan nafsumu. Kau dan ayahmu sama
saja. Juju ingin ngentot dan tak peduli
memek siapa ini!”
Selain sange, aku juga merasakan egoku.
Ku ambil kembali daster dan
melemparkannya ke ibu.
“Kemarin ibu kupaksa. Tapi sekarang
aku mau ibu yang menyerahkan diri atas
kemauan ibu sendiri. Menawarkan diri ibu
sendiri kepadaku. Kalau gak gitu, juju
gak akan menyentuh ibu.”
Aku berhenti sejenak lalu melangkah
menuju kamarku. Setelah di kamar, aku
berbalik.
“Aku tak tahu tentang ayah tapi aku
peduli memek siapa yang kuentot! Aku
hanya ingin memek ibu bukan setiap
memek! Mungkin ibu pikir tak wajar tapi
juju cinta ibu!”
Lalu kututup pintu kamar dan kukunci.
Lalu aku berbaring di ranjang. Aku
bangga bisa mengontrol diri saat dia
berdiri hanya memakai cd dan bh dan
kontolku tegang ingin ngentot. Aku tahu
ibu merasa dipermalukan saat melihat
aksiku. Malamnya ibu dan ayah
bertengkar saat ayah pulang. Ayah tak
senang aku mengingkari janjiku. Ibu
menangis tapi kemudian terdiam.
Kulanjutkan taktikku pada ayah agar
bisa ngentot ibu. Kami tahu paman akan
kerja sampai beberapa hari ke depan. Jadi
kubujuk ayah agar pergi dan tidur
dengan bibi. Di malam pertama paman
pergi, ayah mengunjungi bibi sekitar jam
9 malam. Aku dan ibu tidur di kamar
masing – masing malam itu. Esoknya ibu
menangis terus sepanjang hari tapi ayah
mengacuhkannya. Malamnya ayah bahkan
tak pulang meski ibu memasak makanan
kesukaan ayah. Jadi ibu menyuruhku
mengantar makanan ke rumah bibi. Aku
antarkan dan segera kembali karena
mereka merasa gugup bicara padaku. Di
rumah aku dan ibu makan. Ibu bertanya
apa yang ayah bilang. Kujawab ayah
takkan pulang malam ini. Selesai makan
kami pergi ke kamar masing – masing.
Kira – kira jam sembilan malam aku masih
belum ngantuk dan sedang membaca
madilog. Seorang teman meminjamkanku
tapi aku sama sekali tak mengerti isinya.
Tiba – tiba pintu kamarku diketuk.
Kubilang masuk saja. Ibu masuk dan
bertanya aku sedang apa. Kujawab
sedang baca buku. Ia lalu duduk di
ranjang dan memutar tubuhku dan
melihatku yang sedang menatap
tangannya. Ibu terlihat seksi dengan
baju tidurnya.
“Aku tak bisa tidur jadi … Rasanya
baru kemarin ibu melahirkanmu. Ibu
sangat bahagia. Ibu menyusuimu dan
juju sangat lucu. Kita tak terpisahkan.
Tak pernah ibu kira kita akan
terpisahkan. Kita sering bermain
bersama. Juju bahkan tidur dengan ibu
sampai umur sembilan tahun. Sejak juju
punya kamar sendri, ibu mulai merelakan
anak ibu pergi.
Semuanya baik – baik saja. Kita keluarga
kecil bahagia. Tapi sekarang, sembilan
tahun kemudian semuanya berubah. Juju
tumbuh dan mengajari ibu pengalaman
yang takkan didapat ibu lainnya. Dan
ayahmu memutuskan bahwa adik ibu lebih
menarik daripada ibu. Dan sekarang ibu
sendirian.”
Aku merasa sedih mendengarnya.
“Meski kita sering tidur bersama sejak
juju lahir, ibu sadar keadaan telah
berubah saat juju bilang ibu mesti
menawarkan diri agar bisa tidur sama
juju. Ibu menyadari ada arti lain saat
‘kita’ tidur bersama. Sebelumnya juju
tak pernah peduli ibu pake baju apa. Tapi
sekarang juju tertarik pada tubuh ibu.
Ibu tahu ibumu bukan lagi seorang ibu
bagimu, tapi juga seorang wanita.
Wanita yang membuatmu bernafsu. Dan
juju bukan saja anak ibu tapi juga
seorang pria. Pria yang bisa memperkosa
ibunya. Seperti ayahmu, juju ingin
melakukan apa saja.”
Aku menjadi pendengar yang baik dan
membiarkan ibu bicara.
“Ibu tak tahu mesti gimana. Kedua pria
yang ibu cintai telah menkhianatiku.”
“Aku tak mengkhianati ibu. Aku
mencintaimu dan apapun yang juju
perbuat itu semua demi orang yang juju
cintai.”
“Tak ada anak yang mencintai dan
bernafsu pada ibunya.”
“Ada, aku. Mengertilah bu.”
“Tapi ini tak boleh. Aku ibumu juga istri
seorang pria.”
“Suamimu sungguh teladan. Ibu disini
ceramah dan mungkin ibu benar saat ini
ia sedang ngentot adik ibu.”
“Itu bukan urusanmu. Dia tetap suami
ibu.”
“Kenapa ibu tak pergi dan bicara
padanya? Kenapa ibu membuang
waktuku?”
Aku buka lagi buku madilog yang tak
kumengerti sama sekali isinya. Ibu
berhenti bersua lalu mulai menangis.
“Suamiku meninggalkanku dan juju
bilang tinggalkan juju sendiri. Apa yang
bisa ibu lakukan? Ibu masih istrinya,
ju.”
“Akan kukatakan sekali lagi jika ibu mau
pemecahannya.”
Aku mencoba tegas. Ibu tetap terisak.
“Bagaimana solusimu?”
“Tinggalkan dia. Ibu mesti
meninggalkannya dan jalani hidup ibu
sendiri.”
“Mudah bagimu mengatakannya. Apa
yang bisa ibu lakukan jika ibu
meninggalkannya?”
“Jangan khawatir. Ibu bersama juju”
“Maksudmu ibu akan dijadikan gundik
juju?”
Aku terkejut.
“Maksudku sebagai ibu tapi …”
“Ibu atau gundik. Bagimu sama saja.”
Kata – katanya keras. Aku diam saja
“Jika juju anak yang baik, mungkin ibu
akan nurut.”
“Lalu apa yang akan ibu lakukan jika
aku menikah?”
“Seperti ibu lainnya. Menjaga jarak dan
kadang menengok juju dan anak juju.”
“Menurut ibu ada berapa ibu yang hidup
dengan anaknya setelah anaknya
berkeluarga?”
Ibu terdiam.
“Tak ada istri anak yang membiarkan
mertuanya berkuasa di rumah. Lihat aja
di sekeliling ibu”
“Tapi itu tak berarti …”
“Itu tak berarti itu dan tak banyak
yang menginginkannya.”
“Lalu kenapa kamu mau?”
“Karena juju cinta ibu.”
“Tiap anak pasti cinta ibunya. Mereka
tidak …”
“Karena cintaku lebih dari itu!”
Ibu terdiam.
“Lalu ibu mesti gimana?”
“Jangan tergesa karena tak wajar bu.
Coba pikir kata – kata juju. Suatu saat
paman pasti mengetahuinya lalu ayah
dan bibi hidup bersama. Akhirnya ibu
tinggal sendirian!”
“Lalu katakan yang mesti ibu
lakukan!”
“Tinggalkan ayah bu. Tinggalkan ayah
dan pergi bersamaku. Aku akan
mengurus ibu.”
Ibu melihatku dengan jijik.
“Apa kau tak malu bicara seperti itu?”
“Tidak bu. Aku pria yang bisa memberi
dan ibu wanita yang butuh dukungan!”
“Tak ada ibu yang mau menerima
tawaranmu ju!”
“Terserah ibu saja. Itu masalah ibu.
Aku bisa saja tinggal dengan ayah dan
bibi.
Ibu melihatku. Kulihat kecemburuan di
matanya.
“Juju mau tinggal dengan bajingan
itu?”
“Ya, ibu tak mau tinggal denganku. Jadi
mungkin aku akan tinggal dengan
mereka.”
“Ibu tak mau juju tinggal dengan
mereka!”
“Lalu terima saja tawaran juju. Kita
berdua pasti bahagia!”
“Bagaimana? Apa kata dunia?”
“Dunia takkan tahu kita tidur bersama.
Dunia tahunya kita ibu dan anak. Ayah
akan tinggal dengan bibi tapi takkan
menceraikan ibu!”
“Jadi kamu mau hubungan gelap?”
“Hubungannya hanya antara juju dan
ibu! Ayah dan bibi mungkin bakal tahu
tapi mereka takkan berani menganggu
karena mereka sendri sesat!”
“Kamu memang bajingan licik yang
pintar.”
“Itulah maksud juju! Takkan ada yang
berubah. Ibu tetap istri ayah dan ibuku.
Yang berubah hanya soal ranjang.
Bukannya seranjang dengan ayah tapi
ibu seranjang dengan juju. Begitulah.
Tetap jadi istrinya dan jadi ibuku. Juju
janji juju akan mengurus ibu lebih baik
daripada ayah. Nanti juga ibu akan
bahagia jadi istriku!”
“Ibu tak percaya kau bisa berkata
seperti itu. Dimana kau
mempelajarinya?”
“Aku tak perlu mempelajarinya dari
orang lain bu. Aku punya kamu!”
“Tapi kita tak pernah ngobrol seperti ini
sebelumnya?”
“Tidak sampai aku mulai mengagumi
kecantikanmu!”
“Kamu terobsesi. Kamu terobsesi
karena ibu adalah buah terlarangmu!”
“Ibu tak sekedar buah terlarang. Ibu
adalah cinta dalam hidupku!”
“Bukan ju! Cintamu harusnya yang
seusia dengan juju dan segenerasi. Aku
ibumu dan ibu sudah tua.”
Ibu mulai menggeser duduknya.
“Tua? Ibu mestinya ngaca. Ibu terlihat
lebih muda daripada gadis seusiaku!”
“Itu hanya tampilannya saja. Ibu sudah
tak muda!”
“Kau tak muda? Jika juju hamili ibu
setahun lagi anak juju akan disusui
ibu.”
Ibu lantas terdiam. Aku juga. Terkejut
akan ucapanku.
“Juju mau menghamili ibu? Ibumu
sendiri?”
“Bukan. Maksudku adalah ibu masih
muda!”
“Tapi kau berniat melakukannya kan?”
“Mungkin. Dengar, kita masih muda dan
jika ibu tidur denganku mungkin bisa
terjadi. Memangnya kenapa?”
“Awalnya kau bicara soal tidur dengan
ibu dan sekarang soal menghamili ibu!
Kenapa kau memberi ibu begitu banyak
kejutan? Apakah ibu tak becus
membesarkanmu?”
“Ibu membesarkanku dengan baik.
Tanyakan saja pada orang sekitar.
Kenapa malah menghubungkannya?
Beritahu juju gimana rasanya saat ibu
dan ayah jatuh cinta?”
“Kenapa?”
“Coba katakan!”
“Ya seperti suami istri lainnya!”
“Siapa bilang setiap suami istri
merasakan hal yang sama?”
“Tak perlu ada yang bilang. Kita tahu
begitu saja!”
“Jadi, jika orang lain bisa
merasakanmu, kenapa aku tak bisa?
Bahkan sejak aku lahir aku merasa
ikatan yang kuat antara kita. Ibu selalu
di dekatku. Tapi sejak juju tumbuh
dewasa, juju tak pernah memimpikan
wanita lain kecuali ibu. Aku merasa
bersalah tapi saat aku melihat sapi kita
mengawini induknya sendiri rasa
bersalahku hilang. Kusadari bahwa aku
tak sendirian. Sapi jantan merasa
normal seperti mengawini sapi lainnya.
Sejak itu, juju sangat ingin ibu. Ibu tahu
kenapa juju perkosa ibu? Karena juju
tahu ibu tak pernah tertarik dengan hal
yang tabu. Jadi ibu tak pernah
menyetujui ikatan seksual kita. Jadi
kulewati batas tabu dengan memaksa
ibu.”
Aku berhenti sejenak.
“Beritahu juju apalagi yang harus
dilakukan? Juju telah mengambil
kesucianmu dan membuktikan bahwat
suamimu tak bisa dipercaya. Juju juga
telah mengatakan perasaan juju pada
ibu. Ibu ingin juju ngapain lagi? Apa ibu
ingin juju menikahi ibu untuk
mengekspresikan rasa cinta juju?
Beritahu juju bu!”
Aku berhenti. Aku merasa telah
mengatakan segalanya. Sejenak ibu
seperti terdiam.
“Aku ibumu…”
“Ibu? Aku buka cd mu seperti pelacur
bu! Kulucuti keibuanmu dan
menyemburkan spermaku di rahimmu.
Seorang ibu takkan lagi hanya menjadi
ibu setelah itu!”
“Mungkin. Tapi seorang ibu takkan
pernah melupakan anaknya!”
“Sempurna. Biarkan saja seperti itu!”
“Bukan itu saja. Aku juga telah
menikah!”
“Sempurna. Ibu telah menikah dan ayah
adalah suami sempurnamu. Dia ngentot
adikmu sekarang saat ibu mengajari
moral pada anaknya.
Aku marah. Kujambak rambut ibu hingga
terlentang di kasur. Ibu teriak dan saat
ia terlentang di kasur, kutindih dia dan
kudekatkan wajahku pada wajah ibu.
“Juju bisa perkosa ibu di sini sekarang
dan suami ibu tak bisa menolong.
Sadarlah bu. Ia bukan lagi pelindungmu.
Tapi aku.”
“Lalu kenapa pelindungku tak mencium
ibunya seperti cintanya?”
Aku terkejut mendengarnya. Aku tak
percaya apa yang kudengar.
“Aku juga perempuan, ju! Aku juga
ibumu! Gimana bisa aku datang dan
bilang bawa aku? Aku telah lama jadi ibu
rumah tangga! Aku telah terbiasa
diperintah. Bagi ibu rumahtangga tak
ada perkosaan. Tapi pemaksaan. Juju
bilang tentang memperkosa ibu tapi
ayahmu kadang memaksa ibu seperti itu.
Tapi tentu saja dia suamiku! Tapi juju
tak bisa berharap ibu membuka daster ibu
untuk juju!”
“Aku tersenyum padanya dan kucium ibu
penuh nafsu. Ibu menutup matanya saat
kami mulai berciuman dan lidah kami
saling beradu dalam mulut. Setelah
beberapa saat aku berhenti dan
menatapnya. Pelan – pelan ia membuka
matanya.
“Mulai sekarang ibu takkan merindukan
ayah!”
“Ibu yakin tidak. Ibu akan melepas
daster ibu. Kecuali kau ingin …”
“Tidak, buka sendiri saja. Juju ingin
melihat.”
“Tak pernah semalu ini buka baju di
dekatmu.”
“Mungkin karena sekarang ibu tahu aku
sedang melihat.”
“Tak pernah membayangkan akan
melepas daster di depan mata anak
sendiri.”
“Hidup memang seperti itu. Suatu saat
kau tidur dengan suamimu tapi di lain
waktu kau tidur dengan anakmu!”
Ibu melempar dasternya dan berbaring di
sebelahku. Aku lalu berbalik hingga
menatapnya.
“Ibu sungguh seksi. Apalagi sekarang
hanya memakai bh dan cd.”
“Maksudmu ibu terlihat jalang? Tidur
dengan pria yang bukan suamiku!”
“Kau tahu, rasanya juju ingin membuka
bh itu dengan tangan sendiri.”
“Lalu kenapa diam saja? Buka saja.
Dulu susu ibu kau gunakan untuk minum
asi. Sekarang susu ibu kau gunakan
untuk memuaskan nafsumu.”
Kubuka kaiatan bh nya. Lalu kulempar
entah kemana. Nampaklah susunya.
Kuremas susunya sambil kuhisap
putingnya. Ibu mengerang merintih saat
kumainkan susunya. Sambil menyusu,
kubuka cd ibu dengan tanganku. Ibu
membantu dengan mengangkat
pantatnya hingga akhirnya ibu pun
telanjang. Kuelus bulu nya sambil jari
tengahku kugesek – gesek ke memek ibu.
Lalu kutekan jari tengahku hingga agak
masuk memeknya. Pelan – pelan jari
tengahku masuk ke memeknya, reflek ibu
membuka kedua pahanya lebar – lebar.
Saat jariku mulai masuk, kutekan lagi
lebih dalam. Ibu makin mengerang tak
karuan saat jariku bermain di memeknya.
Lalu kumainkan juga itil ibu dengan
jempolku. Kumainkan jari tengahku di
memeknya dan jempolku di itilnya. Ibu
menutup matanya sambil menikmati
aksiku. Tak lama kemudian, ibu pun
orgasme.
Itulah pertama kali kulihat ibu orgasme.
Lalu ia menatapku. Kucabut tanganku
dan kubersihkan dengan mulutku.
“Cairan memek ibu rasanya enak!”
“Juju sepertinya lupa ibu punya oven
hangat untuk kenikmatanmu. Ayo cek
dan entot ibu!”
“Ingin kontol anakmu ya? Apa yang
terjadi dengan semua pembicaraan
tadi?”
“Kau hanya bilang akan merawatku
seperti ayahmu. Ayo ju, cukup bicaranya.
Entot ibu sekarang!”
“Ibu ingin kontolku? Akan kuberi!”
Lalu aku jongkok di atas ibuku.
Kumasukan kontolku ke memek ibu.
Darahku mengalir ke seluruh tubuh
membuatku merasakan kenikmatan yang
sangat dalam. Kupompa kontolku ke
memek ibu. Ia tak henti mengerang
kenikmatan.
“Kau ingin ngentot ibumu? Dasar anak
bajingan. Entot saja. Entot saja seperti
pelacur”
Ibu semakin meracau tak karuan. Kata –
katanya malah semakin menambah daya
rangsang yang kurasakan. Entah berapa
lama kami bercinta lalu kurasakan
orgasmeku semakin dekat. Aku
mendengus tapi tetap ngentot. Akhirnya
muncratlah spermaku di dalam
memeknya. Tubuhku pun ambruk menimpa
tubuh ibu. Jantung kami rasanya
berdetak lebih cepat. Keringat kami pun
menyatu. Kami tetap menyatu sekitar
lima menitan hingga akhirnya kontolku
lepas dari memeknya. Lalu aku berbaring
di samping ibu.
“Tinggalkan saja ayah bu. Jangan sia –
siakan memek ibu untuk ayah. Ayah tak
pantas mendapatkannya!”
“Kenapa? Karena kamu udah tahu
nikmatnya memek ibu ya?”
“Lihatlah dia. Dia tak menyadari betapa
spesialnya dirimu!”
“Apa juju lupa, jika dia tak
menyadarinya, maka juju takkan ada di
dunia ini!”
Aku terncengang.
“Juju lupa ya. Juju lahir dari lubang
yang sama yang barusan juju entot. Dan
ayahlah yang membuat juju!”
Aku terdiam.
“Semua berubah. Dia akhirnya tertarik
memek lain! Ibu masih mencintainya
kan?”
“Ayahmu suami ibu dan cinta pertama
ibu, ju!”
Aku agak kecewa.
“Tapi ibu juga mulai suka kontol lain.
Khususnya kontol anak ibu!”
Ibu tersenyum. Aku juga tersenyum.
Lalu ibu mengelus kontolku.
“Jika ada sesuatu yang bisa membuat
ibu meninggalkan ayahmu. Maka itu
adalah kejantananmu. Jika juju bisa
kasih lebih lagi seperti tadi, maka peduli
setan dengan ayahmu!”
“Aku mau bu. Akan juju kasih lebih dari
yang tadi. Jadilah milikku dan tinggalkan
ayah. Ibu takkan menyesalinya.”
Kuelus susunya.
“Juju suka bilang gitu ya. Juju suka
menyuruh ibu meninggalkan ayah dan
menjadi milik juju!”
“Tentu saja. Juju seneng bila denger
ibu akan meninggalkan ayah dan jadi
kekasih juju!”
“Jika itu yang juju mau, mulai sekarang
aku tak hanya ibumu tapi juga milikmu!”
“Juju ingin ibu jadi kekasihku, bukan
milikku!”
“Jangan lupa. Ibu seorang ibu rumah
tangga. Ibu tak sebebas gadis lajang.
Jadi ibu tak bisa kerja mengurus rumah
tangga sambil jadi kekasih juju. Juga tak
bisa pergi atau menceraikan ayahmu.
Dan aku juga ibumu. Juju tak bisa
memerintah ibu seenaknya. Juju tak
memiliki ibu atau tubuh ibu sampai ada
ayahmu. Juju hanya bisa memaksa ibu
melakukan sesuatu. Walau ibu
menyukainya, ibu tetaplah wanita dan
hanya bisa menaatimu. Jadi ibu hanya
bisa jadi milikmu, bukan kekasihmu.”
Ibu tetap memainkan kontolku.
“Bahkan saat ayah tak ada?”
“Ibu telah jadi istri ayahmu sejak lama.
Bahkan ibu lupa kapan kami pertama kali
ngentot.”
“Jadi ibu diam saja saat ayah memaksa
ibu setiap waktu?”
“Tidak. Jangan salah. Walau bukan ibu
yang memulai, akhinya selau ibu nikmati
dientot ayahmu.”
“Gini saja. Mulai sekarang anggap saja
ibu tinggal dengan dua pemerkosa.”
Aku tetap memainkan susu ibu.
“Baiklah. Tapi ibu ingin lebih serang
diperkosa juju. Seolah olah selain jadi ibu
juga jadi menantu sendiri.”
“Jadi juju bisa perkosa ibu juju lagi?”
Kontolku jadi keras lagi.
“Sesaat setelah ibu keluar dari kamar
mandi.”
Kulihat ibu bangkit menuju kamarmandi.
Sedangkan aku hanya bisa memegang
kontolku sambil berharap
keberuntunganku.
-- Bersambung --

Komentar